Menilik ‘Valentine Day’ dalam Frame Islam

November 3, 2008

Oleh: Zahra Fona

Dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe

Benarkah Valentine Day adalah Hari Kasih Sayang?

Sangat menyedihkan perkembangan teknologi informasi khususnya media audio visual sekarang telah menyebabkan para generasi muda menyerap mentah-mentah semua informasi yang dianggap benar. Salah satunya adalah valentine day yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Jadilah bulan Februari menjadi bulan yang ditunggu-tunggu, terlebih bagi pemuda-pemudi yang sedang kasmaran. Tak jarang valentine day menjadi ajang  free seks yang semakin marak di kalangan pelajar/mahasiswa, berkedok kasih sayang. Ironis sekali, pelajar/mahasiswa yang seharusnya bertindak terpelajar malah berkelakuan sebaliknya.

            Tentu saja penulis tidak menganggap semua materi dalam media audio visual di negeri kita buruk, pun tidak menganggap semua pelajar/mahasiswa tidak terpelajar. Mungkin hanya beberapa persen, tapi cukup menjadi sorotan. Ibarat pepatah setitik nila mencemarkan susu sebelanga.

            Tak dipungkiri memang di negara kita, pengawasan terhadap media audio visual tidak terlalu ketat. Kita lihat saja, sinetron yang notabene untuk kalangan remaja, seolah mempromosikan cara mengungkapkan cinta, berpacaran, bahkan mengajak berciuman, dan sebagainya. Dan menganggap bahwa ciuman itu adalah hal yang biasa dalam berpacaran. Na’uzubillah! Rating tertinggi pun diperoleh oleh sinetron semacam ini. Tak heran bila seks bebas semakin merajalela, hasil survey belakangan ini di Banda Aceh menunjukkan bahwa 20% mahasiswa bekerja sebagai PSK. Entah dituntut kebutuhan hidup atau mengikuti tren.

            Fakta ini tak lepas didukung oleh tempat-tempat hiburan, cafee, mall, toko-toko yang menyemarakkan valentine day. Semuanya memamerkan berbagai symbol/jargon dan iklan tidak islami hanya untuk mengekspos valentine day tersebut.

 

 

Siapa itu Valentine?

            Sangat ironis bila seseorang merayakan sesuatu semacam valentine day tanpa mengetahui asal-usulnya. Sehingga menjadi semacam ajang ikut-ikutan, keren-kerenan, seolah-olah dengan merayakan valentine day akan menjadi orang yang modern. Sungguh disayangkan.

            Menurut Ensiklopedi Katolik, ada tiga versi tentang Valentine. Pertama, ia adalah seorang pendeta, namanya St. Valentine. Ia hidup di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270   M Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menentang beberapa perintahnya. Ia mengajak manusia kepada agama Nasrani, dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia lalu ditangkap dan dibunuh dan dikuburkan di Via Flaminia. Pihak gereja menganggapnya orang suci, sehingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah gereja di Roma, dan juga dijadikan sebagai nama gerbang, Gerbang St. Valentine. Tapi sekarang telah berubah nama menjadi Porta del Polopo.

            Kedua, St. Valentine adalah nama seorang pemuda yang mati dieksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II pada tanggal 14 Februari 269 M. Nama aslinya Valentineo. Karena ia telah menentang kebijakan sang raja, yang saat itu ingin membentuk pasukan yang tangguh, yang terdiri dari kaum pemuda. Agar mereka tidak loyo, maka raja melarang mereka nikah. St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya raja mengetahuinya. Lalu ia dipenjarakan. Di penjara ia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya sampai sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya, Valentine.”

            Ketiga, Valentine adalah nama seseorang yang meninggal sebagai martir (orang mati mempertahankan prinsip-prinsipnya). Peristiwa itu terjadi di bagian provinsi Romawi. Ia mati pada abad ke-3 M.

            Dari ketiga versi di atas dapat diketahui bahwa, Valentine adalah orang yang mempertahankan diri dengan prinsip-prinsip yang benar menurut ajaran agamanya. Karena itu ia dianggap sebagai orang suci dan untuk mengenang perjuangannya namanya  diabadikan dan diagungkan.

Untuk mengangungkan Valentino yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan, maka para pengikutnya memperingati kematian Valentine sebagai upacara keagamaan. Sejak abad 26 M, upacara keagamaan mulai hilang, berganti perayaan bukan keagamaan. Hari valentine dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut ‘supercalis’ dirayakan setiap 15 Februari. Setelah orang-orang Romawi memeluk agama Nasrani, pesta ‘supercalis’ kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Peringatan kematian Valentine sebagai hari kasih sayang juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu kasih sayang itu mulai bersemi bagai burung jantan dan betina pada tanggal 14 Februari.

Zulkifli Nurdin (pengacara di Malaysia) mengatakan dalam kaset “MURTAD”, mengatakan bahwa Valentine adalah nama seorang pendeta, namanya Pedro St. Valentino. Tanggal 14 Februari adalah hari jatuhnya kerajaan Islam Spanyol. Hari tersebut diumumkan sebagai hari kasih sayang karena menurut mereka, Islam adalah sebuah kezaliman. Maka  hari tumbangnya kerajaan Islam Spanyol dirayakan sebagai hari valentine.

Dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata galantine yang berarti gallant atau cinta. Persamaan bunyi antara valentine dengan galentine menyebabkan orang berpikir bahwa sebaiknya para pemuda mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari.

            Seiring perkembangan zaman, tujuan dan makna peringatan kematian valentine semakin bergeser. Orang-orang mengenal valentine melalui simbol-simbol, warna, greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado, pemberian mawar, pernyataan cinta, dan sebagainya, tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

 

Valentine Menurut Islam

            Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia adalah bagian dari kaum itu.” Hadist tersebut jelas menyatakan bahwa mengikuti, meniru, atau sekedar iseng melakukan sesuatu hal yang dilakukan oleh sekelompok kaum menyangkut kepercayaan agamanya maka kita  menjadi  bagian dari  mereka.           Islam melarang mengikuti suatu perbuatan yang berdasarkan pada suatu kepercayaan lain atau disebut taqlid. Sejarah valentine jelas bahwa perayaan itu bersumber dari agama Nasrani. Maka mari kita bertanya pada diri sendiri apakah kita mau menjadi bagian dari kaum itu?

            Allah Swt berfirman “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra : 36).

            Dalam Islam kata ‘tahu’ berarti mampu mengetahui dengan seluruh pancaindera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya, bukan sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekedar tahu sejarah, tujuan, apa, siapa, kapan, bagaimana, dimana, akan tetapi lebih dari itu.

            Di satu sisi barangkali banyak yang beranggapan dan memang benar adanya bahwa menciptakan dan mengungkapkan kasih sayang adalah sebuah kebajikan. Tetapi alangkah eloknya kasih sayang itu berlangsung selamanya, bukan sehari dalam setahun. Bukan pula harus berkiblat pada valentine, mengagungkan sebuah ajaran lain di atas ajaran Islam. Islam diturunkan ke dunia dengan kasih sayang. Umat Islam diperintahkan untuk menjalin persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Swt. Rasulullah bersabda “Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Berpijak pada kenyataan di atas, masihkan kita berkeras hati merayakan tanggal 14 Februari sebagai hari berkasih sayang? Apapun alasannya perayaan itu jelas bukan bersumber dari Islam. Valentine hanyalah rekaan pikiran manusia yang diteruskan pihak gereja, berpegang hanya pada akal manusia semata. Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 20: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

            Kasih sayang dalam Islam adalah sepanjang masa, tidak terbatas tanggal dan temporal belaka. Penyebaran Islam pun tidak melalui kekerasan maupun paksaan. Islam menyuruh umatnya saling mencintai seperti mencintai dirinya sendiri. Islam agama yang cinta damai. Allah melaknat orang yang mengganggu tetangganya walaupun ia bukan orang Islam. Jadi, hakikat cinta damai adalah mencintai setiap insan terlepas dari agama apapun yang dianutnya.

Advertisements

Meneladani Akhlak Rasul Melalui Peringatan Maulid

November 3, 2008

Oleh: Zahra Fona

Dosen Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe

 

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah menjadi rutinitas tahunan bagi ummat Islam di Indonesia. Cara pelaksanaannya pun beragam dan memiliki ciri khas tersendiri di berbagai daerah. Khusus di Nanggroe Aceh Darussalam, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW selalu disertai dengan ceramah khas mubaligh terkenal di daerah.

Di satu sisi peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan ajang penting dalam rangka menyegarkan, meningkatkan, dan memperbaharui tekad dan komitmen dalam upaya memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Rasulullah SAW. Namun di sisi lain terasa bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAW menjadi kehilangan makna, berjalan begitu datar, dan hanya sebagai rutinitas tahunan yang disertai ‘pesta’ makanan enak. Bahkan peringatan maulid tak jarang menjadi ajang ‘pamer’ kenduri.  Menjelang maulid, harga beberapa bahan makanan meningkat, terlebih harga ayam, bisa meningkat berkali lipat. Karena daging ayam seolah menjadi hidangan khas peringatan maulid.

Memang, hakikatnya kenduri itu disertai dengan mengundang makan anak yatim. Tetapi kenyataannya, hanya secuil dari makanan enak itu yang dinikmati anak yatim. Sisanya yang tentu sangat berlebih bisa menjadi makanan tuan rumah yang dimakan berulangkali. Atau kadang harus dibuang karena terlalu banyak. Nauzubillah!

Sejauh mana ummat Islam khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam memahami makna peringatan maulid saat ini? Sudahkah akhlah Rasulullah SAW terpatri dalam kehidupan masyarakat kita?

            Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke muka bumi tepat pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah dalam keadaan yatim, dari rahim seorang  wanita shalehah, Siti Aminah. Ayahnya, Abdullah telah terlebih dahulu meninggal dunia ketika usia kehamilan ibunya 6 bulan.  Dalam al-Quran Allah menyatakan bahwa tujuan diutus Nabi Muhammad adalah untuk memberi rahmat bagi seluruh alam, dan menyempurnakan akhlak manusia.

            Rahmat yang dimaksudkan mempunyai makna yaitu keuntungan, keberkahan, kebaikan, dan kesejahteraan dalam segala bidang kehidupan.  Dalam hal ini mencakup bidang yang sangat luas yaitu bidang sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan sebagainya.

            Sedangkan sebagai penyempurna akhlak manusia, Nabi Muhammad SAW bersabda “Innama bu’itstu liutammima makaarim al-akhlak” artinya: sesungguhnya aku diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ketika para sahabat bertanya kepada Siti Aisyah, isteri Nabi, “Apakah akhlak Rasulullah SAW itu?” Siti Aisyah menjawab, “Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran.”

            Akhlak Rasulullah SAW telah diakui oleh para peneliti sebagai akhlak yang paling unggul. Seorang pemikir Islam dari India, Al’u A’la al-Maududi melukiskan kepribadian Rasulullah: He is the only one personality that all excellences have been blended him. Ia (Muhammad)  adalah satu-satunya pribadi dengan seluruh keunggulan kualitas terdapat pada dirinya. Diantara keutamaan akhlak Rasul dapat dirangkum sebagai berikut:

            Pertama, sebagai kanak-kanak, Muhammad SAW telah menunjukkan dirinya sebagai anak yang baik dan rajin. Ia membantu pamannya menggembala kambing. Ia tidak pernah melakukan perbuatan buruk seperti yang dilakukan masyarakat Quraisy pada masa itu seperti berjudi, minum khamar, berfoya-foya, dan sebagainya.

            Lalu, tidakkah berfoya-foya dengan berlebihan dalam menyediakan hidangan maulid tidak berarti berseberangan dengan akhlak Rasulullah? Apalagi yang notabene dimakan oleh anak yatim hanya secuil itu? Tidakkah sebaiknya menyedekahkan kelebihan rezeki untuk anak yatim dan fakir miskin lebih baik?

            Kedua, sebagai suami, Muhammad dikenal sebagai suami yang sangat menyayangi isterinya. Rasa sayang yang langsung ditunjukkan melalui sikap dan tingkah laku, bukan hanya dalam hati. Terbukti oleh panggilan mesranya kepada isterinya Siti Aisyah, ‘ya Humaira’ yang artinya wahai bunga mawar yang sedang mekar (kemerah-merahan).

Rasulullah sangat memuliakan wanita. Adalah salah besar mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw merendahkan wanita dengan memiliki isteri yang banyak. Justeru diantara isteri-isteri Rasul SAW, hanya Aisyah yang dinikahinya ketika masih gadis, setelah meninggalnya isteri pertamanya Siti Khadijah dan menduda cukup lama. Sedangkan isteri-isterinya yang dinikahi setelah itu adalah janda-janda perang. Suami-suami mereka gugur di medang perang. Ada juga wanita yang dinikahinya adalah wanita berusia lanjut, dengan niat melindungi dan memberikan bantuan. Jadi, salah besar pendapat penulis Barat yang mengatakan bahwa poligaminya Rasulullah sebagai ‘sex oriented’.

Rasulullah SAW mengibaratkan wanita yang telah mempunyai anak sebagai madrasah. Karena sang ibulah yang mendidik anak dari sejak dalam kandungan sampai ia dilahirkan. Jika si Ibu dibina dengan baik, maka ia akan melahirkan anak-anak yang baik pula. Rasul juga mengatakan ‘aljannatu tahta aqdam al-ummahat’, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Mendurhakai ibu adalah dosa besar, tempatnya neraka. Sehingga dengan peran luar biasa itu, Rasul mengatakan ‘al-Mar’atu Imad al-bilad’,  wanita adalah tiang negara. Memberikan perhatian dan perlakuan yang baik terhadap kaum wanita adalah investasi bagi masa depan generasi muda, karena ibulah yang mencetak generasi muda ke arah yang dikehendakinya.

Merebaknya isu gender tak lain adalah refleksi ketidaktahuan para pengusungnya akan keistimewaan perhatian Islam terhadap wanita. Lalu sikap para wanita sendiri dalam menilai dan menghargai diri sendiri juga sangat signifikan dengan perlakuan yang akan mereka terima. Di sisi lain, perlakuan kurang baik para suami terhadap isteri-isterinya merupakan problema sosial yang sangat urgen dan memerlukan perhatian khusus.

Sudahkah para suami memuliakan isteri-isterinya? Menjadikannya ‘humaira’?

Ketiga, Muhammad sebagai ayah dan kakek. Ia dikenal sangat dekat dengan anak-anak dan cucunya, juga dengan anak-anak kecil lainnya. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa, suatu ketika Rasulullah SAW sedang sujud dalam salatnya, cucunya, Hasan masuk ke kamar dan naik ke punggungnya. Hasan masih kecil dan belum tahu bahwa Rasulullah SAW sedang salat. Beliau tetap sujud dan membiarkan cucunya sampai agak lama sampai ia turun dari punggungnya. Kejadian itu dilihat oleh sahabat Rasulullah SAW dan ia bertanya, “ya Rasulullah, aku melihat engkau sujud begitu lama, apakah engkau mengqadha salat?” Rasulullah menjawab, “cucuku sedang bersantai di atas punggungku maka aku enggan mengganggunya”.

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW sambil membawa bayi. Beliau ingin menggendong bayi itu, awalnya si wanita enggan memberikannya karena takut akan mengotori Rasulullah atau mengencinginya. Namun beliau tetap ingin menggendong sang bayi. Ternyata benar, bayi itu kencing di pangkuannya. Rasulullah SAW sama sekali tidak marah, beliau berkata, “wahai saudaraku, luka hati sang bayi jauh lebih sulit dihilangkan dibandingkan dengan air kencingnya yang membasahi pakaian.”

Andai kedua kejadian itu terjadi pada kita, apa yang akan kita lakukan? Memarahi atau mencubit sang cucu yang menaiki punggung kita sehingga mengurangi kekhusukan salat kita? Mengumpati sang bayi yang membuat kita harus menyucikan diri lagi, dan dengan muka merah padam menyerahkan kembali bayi itu pada ibunya? Nauzubillah, semoga Allah menjauhkan yang demikian dari diri kita.

Teladan yang diberikan Rasulullah tidaklah muluk-muluk. Kesehariannya mudah dicontoh. Bohong besar bila akhlak Rasulullah terlalu mulia untuk ditiru. Pertanyaan yang harus kita jawab dalam hati masing-masing adalah: “Maukah kita mencontoh akhlak beliau?” bukan  “Mampukah kita meniru akhlak beliau?”

Bila memperhatikan hal-hal kecil dan mulai memperbaiki sedini mungkin, dimulai dari lingkungan terkecil: diri kita sendiri dan keluarga, Insya Allah kesempurnaan akhlak yang diusung Rasulullah berabad silam akan nyata adanya. Kenduri maulid tidak akan ‘lagi’ menjadi ajang pesta makanan mewah yang kadang-kadang hanya secuil dicicipi oleh anak yatim dan fakir miskin. Sementara selebihnya  dimakan atau disediakan untuk mengenyangkan orang-orang terhormat di mata masyarakat.

Tutup Saji

November 3, 2008

Cerpen ini dimuat di Harian Serambi Indonesia, 29 Juni 2003

 

Karya: Zahra Fona Idris

 

Sudah dua minggu aku berada di rumah baru. Jauh sekali dari kesan berada atau mewah. Namun bagiku cukup nyaman. Dan aku selalu berusaha untuk  merasa seperti itu. Caranya? Tentu saja aku mengatur ‘rsss’ku (baca : rumah sangat sederhana sekali) ini semaksimal mungkin. Catnya kupilih yang terang dan lembut agar terkesan luas namun teduh. Semua pasti terpesona melihat  kemampuan ‘sulap’ku merubah lahan yang dulu hanya cocok untuk kandang ayam kampung menjadi ‘istana’ sederhana.

Hari-hari kulalui dengan gembira. Suami pun selalu memenuhi keinginanku menata ruang, bahkan ia tidak banyak berkomentar dengan ‘pekerjaan’ku. Paling hanya ketika kupaksa untuk memberi penilaian.

Taman mungil di ruang tengah pun sudah mulai mekar dengan bunga lili, dahlia dan mawar putih. Memberi keceriaan dan warna baru pada suasana ‘istana’ku. Aku semakin betah di rumah.

Sebenarnya walalupun suami tak terlalu sibuk, ia jarang sekali membantuku berbenah. Ia bahkan hanya diam ketika kukatakan peralatan dapur yang belum lengkap. “Sabar aja dulu, Dek! manusia aja kalau baru lahir kan tidak langsung bisa jalan. Tapi harus merangkak dulu pelan-pelan,” komentarnya suatu ketika. Aku pun hanya diam.

“Huss……..!!” Seekor kucing berusaha membuka koran yang menutupi hidangan di meja kecil dapur. Aku sedang mencuci piring. Ia hanya memandangiku tak berdosa. Lalu ‘tangan’nya dengan cekatan menekan salah satu sisi piring “Hupp!!” kuayunkan gagang sapu ke arahnya. Ia melompat. Prangg!!Satu piring kecilku bertebaran menjadi bagian-bagian lebih kecil di lantai. Si belang pun berlalu dengan seekor ikan panggang di mulutnya. Aku terpana sesaat. Kejadian yang begitu cepat. Apa yang harus kukatakan pada suamiku tentang ikan kegemarannya? 

“Ya sudah, mungkin bukan rezeki kita,” hanya itu kata-katanya mendengar pengaduanku.  Dan jadilah makan siang cuma dengan sambal kecap dan sayur bayam.

“Bang, kita harus ke pasar hari ini. Buat beli tutup saji. Kalo tidak, akan ada lagi yang hilang dari meja makan. Kucing-kucing di sini terlalu berani!” Kutunggu beberapa saat, tak ada komentar, ah… sama seperti sebelumnya. Hanya  desah nafas panjang teratur. Ia terlelap. Walaupun ini sudah kesekian kali kukatakan padanya, mungkin aku harus mengulang dan terus mengulang, pikirku.

Meja makan kami sebenarnya bekas meja di kelas, tapi tidak terpakai lagi karena sudah goyang. Akhirnya dengan dipaku sana-sini, menjadi layak pakai kembali, setidaknya menurut versi kami.

Aku telah mengukur panjang dan lebar meja itu, 1,5 x 0,5 meter. Jadi seandainya nanti ada uang akan lebih mudah untuk membeli tutup saji seukuran atau lebih kecil dari itu. Karena kalau kebesaran, dapat dimasuki oleh cicak atau kecoa atau binatang lainnya.

“Eh, Nanda, apa nggak dimakan kucing nanti,” kata Siti begitu melihat keadaan meja makan kami, yang hanya bertutupsajikan lembaran koran. Kami sedang mempraktekkan resep baru cara memasak bihun yang Siti dapat dari majalah. Siti adalah temen kostku sewaktu kuliah dulu. Rajin sekali mengumpulkan resep masakan dari majalah maupun tabloid. Bila ada yang menurutnya lezat, pasti akan dipraktekkan, dan ia kan mengajakku ikut serta. Aku sih senang-senang saja, karena hasilnya selalu mmm…. luar biasa, seperti masakan restoran! “Kalo Rudi tahu, pasti minta diajari,” kataku seusai mencicipi masakannya suatu ketika, maksudnya, masakan kami,  yang disusul cubitan Siti di pinggangku.

“Selama ini belum, kecuali kalau pintu dapurnya nggak ditutup,” jawabku sambil mencicipi masakan bihun yang lezat, mmmm ….  

Siti pun hanya mengerutkan kening.

***

Aku mengucek mata sebentar, masya Allah rupanya aku tertidur di ruang tamu. Mungkin kecapaian, tadi pagi mencuci, menyetrika, kemudian kulanjutkan dengan memasak untuk makan siang. Kulirik sesaat jam Robinson di dinding sebelah timur,  jarum menunjukkan pukul 12.30.Buru-buru aku menuju kamar mandi, untuk mencuci muka, karena sebentar lagi Bang Hari akan pulang.

Aku akan shalat dhuhur dulu, tapi….”Astaghfirullah!!!!!!!!!” pekikku begitu sampai di pintu dapur, langkahku tertahan. Taplak meja tidak lagi berada di atas, berserakan di lantai bersama puing-puing piring dan gelas. Aku terduduk lemas. Musnah sudah peralatan makan kami yang memang hanya dua buah piring, dua buah gelas, satu buah tempat nasi dan satu buah tempat sayur serta piring kecil untuk tempat ikan. Semua tinggal puing.

Ini kasus keempat, dan merupakan kasus terbesar selama ini. Tapi aku tidak tahu ‘kerjaan’ kucing yang mana kali ini. Soalnya ada beberapa ekor kucing yang sering kulihat mondar-mandir di sekitar rumah dan kadang-kadang sempat kulihat menyelinap ke dapur.

Dilihat kuanalisis dari akibat kerjanya, sepertinya lebih dari satu ekor, mungkin mereka berebut ikan yang hanya sepotong, terjadilah perang kucing. Anehnya mengapa sedikitpun aku tak mendengar bunyi ‘perang’ itu. Ah …aku lelap sekali karena kelelahan.

 “Tok….tok….tok….!! Assalamualaikum!”

Jantungku berdebar. Karena itu bang Hari sudah pulang.

“Waalaikumussalam!” jawabku sambil membuka gerendel pintu. Apa ini? Bungkusan besar. Aku menatap Bang Hariku meminta jawaban.

“Buka aja! Abang baru gajian tadi, ini kan tanggal satu,” katanya sambil tersenyum, seolah tahu pikiranku.

Ha? Tutup saji, air mataku menetes. Aku tak bisa membendung air mata.Tapi cepat kusapu dengan ujung gamis. Tapi rupanya ia duluan melihatnya.

“Kenapa, Dik? Kok nangis? Jelek ya?”

Secepat kilat aku menggeleng. Malah bagus sekali, warnanya biru, kegemaranku. Ingin kukatakan kejadian barusan padanya. Seandainya dari dulu tutup saji ini ada mungkin kita tak perlu lagi membeli piring dan peralatan makan lainnya.

Tapi sekarang tutup saji tak begitu penting, yang penting bagaimana cara kita makan siang ini. Apa harus makan di luar atau beli nasi bungkus. Tapi makan di luar akan menghabiskan banyak biaya, sedangkan kita harus berhemat agar uang yang ada cukup untuk satu bulan ke depan tanpa harus ‘gali lobang’. Lalu ke pasar membeli peralatan makan yang baru, dan mesti pakai uang.

Aku tak tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. Minta pertanggungjawaban pada kucing-kucing itu? Ah … mana mungkin, mereka hanyalah binatang yang mencari makanan sesuap.  Kugamit lengan bang Hari menuju dapur, supaya ia melihat sendiri.

“Kucing lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Hanya hembusan nafas panjangnya terdengar olehku.

“Abang beli nasi bungkus aja, deh!,” pintaku.

“Kenapa nggak sekalian aja kita keluar, rasanya selama tinggal di sini di rumah baru ini kita belum pernah makan di luar,” ajaknya.

Aku diam, ragu, bagaimana kalau uangnya ………….

“Jangan kuatir, Abang dapat uang lebih bulan ini dari hasil les privat,” ia meyakinkanku.

Subhanallah, ya Allah ampuni aku telah berburuk sangka padanya juga pada-Mu. Ternyata benar kata Bang Hari bahwa rezeki Allah itu sangat luas. Kadang aku terlalu egois untuk mengingat semua itu.

 

 

 

 

 

Tadarus Malaikat

November 3, 2008

Cerpen ini dimuat di Harian Aceh tanggal 2 Nov 2008

Oleh: Zahra Fona Idris

Meunasah-meunasah kehilangan tadarusnya. Malam mencekam. Konflik telah usai seiring MoU Helsinski 15 agustus 2005 lalu. Entah apa problemnya sehingga orang-orang enggan berkhalwat dengan malam. Aku meringkuk dalam kurungan malam. Menatap langit berjaga sendirian.

Empat tahun berlalu setelah tsunami memakan anak, ayah, ibu, nenek dan kakek manusia. Wajah nanggroe-ku berubah. Orang-orang gunung telah turun menjabat tangan orang-orang lembah. Wajah-wajah kembali sumringah. Ladang-ladang kembali menghijau. Burung-burung kembali terbang ke angkasa.

Tapi entah apa dinyana. Anak-anak tak ada lagi yang menyuka bermain dengan ayat-ayat-Nya. Mereka larut dalam kotak segi empat bergambar berwarna dan bergerak itu. Malam berlalu, kesepian dan berlinang air mata.

“Seharusnya tidaklah perlu beribut-ribut dengan mikrofon di malam buta. Bagaimana bisa kami nyaman berehat malam. Padahal siang kami kelelahan bekerja dalam kelaparan. Berikanlah kami waktu sekejap tuk berdamai dengan bantal.”

“Tapi kan ini hanya di bulan Ramadhan, Pak Cek?” Sela Teungku Imun Chik

“Ya iyalah. Justeru karena Ramadhan inilah. Siang kami kelelahan, malampun tak bisa tenang sejenak. Anak-anak juga rewel gara-gara tidak nyenyak tidur. Akibatnya  ibunya uring-uringan mengurus.”

Teungku Imun Chik memandang lurus. Menatap malam sedang berjalan sendirian. Hatinya miris. Bukan sekali ini rakyat gampong mendatanginya di meunasah, untuk meminta keringanan di bulan ramadhan. Memintanya mengecilkan volume mikrofon, atau istilah kasarnya memintanya menghentikan tadarus dengan memakai mikrofon. Kemarin ada Pak Matnu, Si Jali, dan Si Mae.  Mereka mengeluhkan anak-anak mereka sering  terbangun dan tak lelap tidur gara-gara suara mikrofon di meunasah.

Tak memakai mikrofonpun tetaplah suara-suara mereka terdengar lantang, melolong di tengah malam sebab tak ada suara lain. Maka rumah yang berada tepat di sekeliling meunasah adalah rumah penuh rahmah, selalu diselimuti bacaan ayat-ayat suci, seharusnya.

Dua hari berikutnya  Pak Matnu, Si Jali, dan Si Mae kembali mendatangi Teungku Imum Chik perihal ketidaktenangan peristirahatan mereka selama malam puasa. Mengeluhkan suara-suara anak-anak bertadarus terlalu keras. Membangunkan lelap anak-anak mereka di rumah.

Kali ini Toke Amin menjumpai Teungku Imum Chik dengan problem yang sama.

Tengku Imum Chik memandangi para santri yang sedang semangat mengalahkan kantuk, menggemakan ayat-ayat Allah ke seluruh jagad. Mereka masih belia, semangat membara. Selintas ia melihat dirinya di empat puluh tahun silam. Beramai-ramai bertadarus bergantian dengan teman-teman kecilnya. Bercanda dan kemudian tergeletak ketiduran di lantai papan meunasah manyang seusai sahur dan salat subuh. Belakangan, perserta tadarus tidak seramai dulu. Hanya beberapa anak yang masih setia, bercakap dengan Tuhan di malam Ramadhan. Miris hatinya memandangi Toke Amin di hadapannya. Sang toke yang sudah jadi pengusaha terkenal itu mengangkat dagu tinggi-tinggi, alamat tak ada tawar menawar.

“Masa sudah berubah Teungku. Dulu bolehlah bertadarus pakai mikrofon sampai pagi. Karena dulu orang-orang tidak bekerja di siang puasa. Sementara saya, sekarang harus bangun pagi-pagi buat cari makan, cari rezeki. Kalau malam saya juga harus bergadang. Kapan pula saya bisa istirahat.  Saya kan bukan robot!”

Sekali lagi  Teungku menelan ludah pahit. Dilema dalam pilihan. Allah, apakah tak ada lagi lailatul qadr janji-Mu? Kenapa orang-orang tak berlomba menggapai malam seribu bulan?

Malam merayap. Senyap menelan. Aku masih menekuri meunasah sepi. Penghujung Ramdhan semakin kelam dan senyap. Nyamuk-nyamuk hutan berdengung di kuping. Kunanti suara-suara. Aku rindu. Anak-anak tergeletak di ubin, kelelahan bermain dan memelototi kotak segiempat di keude Toke Amin. Sesekali menepuk nyamuk yang hendak mereguk rezeki di kulit mereka.

Kutatap langit kelabu. Remang bulan tampak sedikit dari balik gemawan. Tersemat kepedihan di wajahnya. Meratapi manusia yang tak lagi punya keinginan merengkuh lailatul qadr. Atau barangkali Allah tidak mau lagi memberi malam termulia itu pada ummat-Nya. Atau manusia yang telah bosan menananti janji yang tak pasti.

Tiba-tiba meunasah benderang sementara bulan masih memeluk awan kelabu. Suara-suara mendengung dalam cahaya. Meunasah dipenuhi rombongan orang-orang bertadarus. Suara-suara merdu bersahutan. Bergantian menyanyikan kalimah-Nya. Sekejap tubuhku membatu. Melotot mataku. Kantukku melesat ke angkasa. Jenak kemudian kakiku melompat. Sayapku terkembang menggapai atap meunasah. Mengintip lebih dekat. Inikah janji-Mu itu ya Rab?

Toke Amin terbangun dari peraduannya. Membuka selimut dengan kesal.

“Dasar orang tua tak mafhum apa? Padahal sudah berjanji takkan mengganggu orang tidur lagi.”

Turun dari ranjang algaenya beranjak ke luar kamar, lalu membanting pintu mereubonya dengan  keras. Sontak, anaknya yang masih bayi meraung keras, terkejut dari tidur lelap.

                                                                                    Ulee Madon, 23 September 2008

(Penulis adalah anggota FLP Lhokseumawe dan dosen pada Politeknik Negeri Lhokseumawe).

 

Nanggroe = negeri

Teungku Imum Chik = Imam di kampung

Pak Cek = Pak Cik

Meureubo = jenis kayu yang sangat bagus kualitasnya

Menulislah!

November 1, 2008

 Banyak sekali pertanyaan yang sama dijumpai dalam forum atau bengkel kepenulisan, bagaimana supaya bisa jadi penulis?? jawaban yang diberikan oleh para narasumberpun  beragam tapi memiliki satu inti yaitu: Menulis! metode penulisan beragam: ada yang kegiatan menulis dilakukan setiap hari, sedikakan waktu minimal 30 menit sehari untuk menulis. penulis lain mengatakan :setiap saat, kapan saja ada waktu, menulislah. apapun metodenya, cita-cita menjadi penulis tak akan tercapai kalau tidak menulis. Menulislah secara intensif. Teruslah menulis apa saja yang ingin diltulis dan jangan suka menghapus tulisan walaupun itu jelek menurut anda. simpan baik-baik, siapa tahu tulisan tersebut bisa menjadi ide pembuatan cerita di masa yang akan datang. Tulislah pengalaman harian anda di buku catatan harian. ini sangat efektif mengasah keterampilan mengungkapkan kata-kata dengan tulisan.

Kualitas tulisan kita tergantung asupan gizi bahan bacaan kita setiap hari. kalau mau tulisan kita bermutu, makanlah (baca: bacalah) tulisan bermutu. adakalanya seseorang yang suka dan intens membaca, akhirnya bisa menulis, karena terlalu banyak hal yang sudah berkumpul didalam benak, butuh penyaluran, maka disalurkanlah lewat tulisan.

 Akhirnya, mau jadi penulis?? Menulislah dan banyak membaca…

Materi Kuliah D3 T.Kimia PNL

October 28, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!